Jumat, 06 Agustus 2010
PENDIDIKAN ANAK DI BULAN RAMADHAN
Melatih anak berpuasa menggembirakan anak di bulan Ramadhan, banyak yang bisa diperbuat. Dan beberapa yang ditawarkan di sini pun bisa dijadikan pilihan. Selamat mencoba!
Makan sahur
Bangun pukul tiga dini hari, bagi anak-anak tentu sulit. Orang tua perlu sabar untuk membangunkan tanpa diwarnai emosi, kejengkelan maupun kemarahan, sekalipun harus 3 atau 4 kali. Karenanya buatlah suasana rumah menjadi cerah dan gembira, misalnya dengan alunan ayat suci Al-Qur'an, nasyid, maupun lagu anak-anak. Termasuk menikmati acara televisi. Anak mungkin belum lapar pada saat itu. Maka, ibu perlu kreatif untuk membujuk mereka agar mau makan. Misalnya dengan mengajak mereka makan di halaman rumah sambil berjalan-jalan, mengiringi anak makan sambil membacakan cerita, dan sebagainya. Untuk menu makanan, pilihlah yang praktis namun sudah cukup kalori. Susu, telur dan roti, misalnya, pilihan yang sering disukai anak-anak, tidak memerlukan waktu lama untuk memakannya, namun memenuhi kebutuhan kesehatan dan kekuatan tubuh. di bulan Ramadhan, sungguh memerlukan perhatian ekstra. Hal pokok yang patut dicatat adalah bahwa tujuan utama melatih anak berpuasa adalah agar tumbuh kecintaannya terhadap ibadah ini. Maka dalam pelaksanaan latihan, kegembiraan mereka dalam berpuasa harus lebih diutamakan daripada keberhasilan secara kuantitas. Jangan sekali-kali memaksakan kehendak, menuntut anak agar bisa berpuasa secara syar'i. Untuk bisa
Tahapan berbuka
Bagi mereka yang belum berpengalaman berpuasa, ijinkan untuk berbuka kapan saja manakala mereka tak kuat bertahan. Namun beri mereka pengertian agar kemampuan berpuasa semakin ditingkatkan, atau minimal sama dengan yang sudah. Buatlah catatan yang jelas mengenai jadwal berbuka mereka setiap hari. Beri motivasi anak untuk senantiasa membuat statistik yang meningkat, atau minimal garis lurus. Jika semula berbuka pukul sembilan, mungkin empat hari kemudian pukul sepuluh, kemudian meningkat pukul sebelas, hingga akhirnya mencapai adzan zhuhur. Dari yang semula berbuka di adzan zhuhur bisa bertambah hingga adzan maghrib. Ide untuk selalu berpuasa setelah berbuka pun bisa dicoba.
Setelah berbuka pukul sepuluh, katakan bahwa dimulai puasa babak kedua hingga berbuka kembali pukul dua siang. Kemudian puasa lagi hingga berbuka saat adzan maghrib. Jangan lupa untuk mengikutsertakan anak-anak pada saat berbuka di kala maghrib, walau mereka telah berbuka sebelumnya, atau bahkan belum berpuasa sama sekali. Berbuka maghrib adalah peristiwa ruhani yang membahagiakan mereka.
Pengkondisian lingkungan
Singkirkan jauh-jauh makanan dan minuman apapun dari pandangan anak-anak. Kosongkan meja serta almari makan. Beri pengertian adik agar tidak makan di depan kakak yang berpuasa. Bahkan gambar-gambar yang bisa menerbitkan air liur pun perlu disimpan terlebih dahulu. Alkisah di tanggal 10 Muharram, Rasulullah menyuruh orang-orang Anshar berpuasa. Mereka bercerita, 'Maka kami sesudah itu berpuasa pada hari Asyura dan kamipun menyuruh anak-anak kecil kami untuk berpuasa, lalu kami pergi ke mesjid dengan membuatkan mainan dari kapas untuk mereka. Jika salah seorang dari anak-anak itu ada yang menangis minta makanan, kami beri dia mainan itu, hingga datang waktu berbuka." (HR Bukhari Muslim)
Perbuatan kaum wanita Anshar yang kreatif mencarikan kegiatan untuk anak-anaknya sangat bagus untuk dicontoh. Dan tentunya kita bisa lebih kreatif lagi dengan didukung fasilitas yang memadai. Sarana hiburan dan telekomunikasi pun menunjang. Intinya, sangat penting untuk merelakan waktu ibu seusai Ashar, untuk menemani anak-anak bercerita, bermain atau sekadar berjalan-jalan demi melupakan mereka pada rasa lapar.
Amaliah Ramadhan
Memperbanyak amaliah bulan Ramadhan akan memberikan suasana khas keceriaan Ramadhan yang turut membantu membangkitkan semangat berpuasa. Mempersering membaca al-Qur'an, shalat tarawih dan mengikuti pengajian harian, misalnya. Juga memperbanyak sedekah, saling berkirim makanan buka puasa antar tetangga.
Hadiah Harian dan Bulanan
Memberi hadiah atas usaha anak untuk berpuasa pun bisa menambah motivasi. Kepada anak berusia di atas tujuh tahun, imbalan hadiah di akhir bulan Ramadhan akan cukup membuat mereka bersemangat. Akan tetapi bagi anak yang lebih kecil, akan lebih efektif jika hadiah harian pun mereka terima. Hadiah harian bisa berupa barang sederhana, atau bahkan hanya berupa bintang dari kertas emas yang ditempel di dinding. Janjikan sebuah hadiah jika bintang mereka mencapai sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh. Hadiah bulanan bisa merupakan kelanjutan dari hadiah harian, dan merupakan satu jenis kebutuhan yang sangat diharap-harapkan anak-anak. Katakan bahwa hadiah itu adalah pertanda kemenangan bagi usaha mereka mengalahkan hawa nafsu.
==========
Biar Anak tidak Matre
Bagaimana mencegah tumbuhnya sifat-sifat materialistis pada anak?
Ridha menengok kanan kiri dengan matanya yang awas. Setelah yakin tak melihat ayah dan ibunya di sana, Ridha pun berjingkat mendekati laci uang, membukanya perlahan dan memasukkan tangannya ke sana untuk meraih lembaran uang lima ratusan. Perbuatan serupa sudah tiga kali ia lakukan dalam sehari itu, yang berarti ia memperoleh tambahan uang jajan dua ribu perak dari uang saku sebenarnya. Dan keseluruhan uang itu pun telah habis untuk membeli jajan, es, dan mainan.
Kedai milik orang tua Ridha memang hanya dijaga oleh ibunya seorang, sehingga tak ada yang menggantikan jaga jika sesekali ditinggal ibu.
Kesempatan terbuka lebar untuk Ridha menambah uang jajannya setiap hari. Kebiasaan ini bukannya tak diketahui oleh ibunya. Ibu hanya bisa mengurut dada melihat kebiasaan menghamburkan uang seperti itu, sementara jika dinasehati Ridha hanya pasang gaya cuek. Kira-kira berapakah usia Ridha? Jika ia anak lima tahunan, awalnya adalah wajar jika ia menginginkan uang saku yang bisa 'mencukupi' keinginan jajannya. Namun, kewajaran seperti ini harus segera diarahkan agar tidak menjadi penyakit. Jika ternyata Ridha adalah anak berumur tujuh tahun, maka kebiasaannya tersebut sudah dapat dikategorikan gejala materialisme dini.
Betul, anak-anak bisa mengembangkan sifat materialistis jika tidak dididik dengan benar sedari kecil. Beberapa dari Gejala awalnya, seperti enggan menabung, enggan berinfaq, suka jajan berlebihan, sudah bisa mulai nampak di usia enam tahun. Di usia inilah, rata-rata anak mulai mengerti makna uang serta manfaatnya bagi kesenangan mereka. Itu sebabnya bagi anda yang memiliki putra-putri usia sekitar enam hingga delapan tahun, jika anak-anak ini masih sulit mengendalikan keinginannnya terhadap uang sehingga lupa diri dan langsung habis untuk bersenang-senang dalam sehari, anda harus bertanya-tanya, apakah ada bibit-bibit materialisme yang bersemai di dalam hati mereka? Sebaiknya, segera antisipasi dengan cara mendidik anak untuk berzuhud terhadap harta. Bagaimana maksudnya? Bagaimana pula caranya?
Zuhud untuk si Kecil
Jangan mengartikan zuhud dengan tidak suka memiliki banyak harta, karena Rasulullah saw yang paling zuhud di antara kita pun memiliki banyak sekali harta. Namun, semua harta itu beliau infaqkan, hingga hanya bersisa sekedarnya untuk hidup sangat sederhana.
Beliau pernah berinfaq ladang kurma untuk sahabat-sahabatnya. Pernah pula menyedekahkan ratusan ekor kambing yang banyaknya antara dua celah gunung. Begitulah ajaran zuhud sang Rasul mulia, yaitu bahwa manusia harus mencari harta sebanyak-banyaknya, namun mampu pula menyedekahkan pula sebanyak-banyaknya dariharta itu. Esensi inilah yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita. Agar mereka mampu mensyukuri nikmat harta yang mereka miliki, agar bisa menghayati bahwa semua harta itu milik Allah jua, selanjutnya agar rela memberikan sebagiannya kepada orang lain. Anak yang terdidik untuk zuhud terhadap harta, maka ia akan suka menabung, suka bersedekah, lebih mudah menahan keinginannya untuk membeli sesuatu, dan sikapnya ringan menghadapi masalah uang. Jika ada pun mereka terima, tetapi jika tak ada pun tak menjadi masalah. Anak-anak seperti ini tak akan terpengaruh oleh krisis moneter, sebab mereka mudah menerima perubahan dari
kaya menjadi miskin.
Semua Harta Milik Allah
Inilah konsep dasar yang harus ditanamkan ke dalam pengertian anak sedini mungkin. Semenjak mereka mulai bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, juga dengan teman-temannya. Terutama, ketika usia anak sekitar lima tahun, dimana umumnya sifat egosentris telah mulai memudar dan anak mulai bias menerima pengertian.
Penanaman konsep ini memerlukan waktu sangat lama, bisa bertahun-tahun. Jangan sekali-kali mengharapkan hasilnya akan terlihat hanya dalam satu atau dua tahun. Yang diperlukan adalah konsistensi, keistiqamahan orang tua dalam mendidik, serta kepekaan untuk memasukkan nilai-nilai ini ke dalam praktik kehidupan sehari-hari. Inti dari nilai yang ingin kita tanamkan kepada anak di sini adalah: bahwa semua barang dan uang yang mereka miliki sebenarnya adalah milik Allah yang dititipkan kepada kita selama di dunia. Titipan itu harus kita jaga baik-baik, dan penggunaannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Dan yang lebih penting, bahwa siapa yang dititipi harta banyak dan yang sedikit, itu terserah Allah, tidak berarti yang satu lebih mulia dari yang lain.
Mengisahkan Ayat Allah
Jika ada waktu yang dianggap tepat untuk bercerita kepada anak-anak, semisal menjelang tidur, saat makan, atau saat bermain bersama, menyinggung tentang firman Allah dalam surat at-Takatsur ayat 1 dan mengartikannya secara bebas akan banyak bermanfaat.
Anak yang masih kecil mungkin belum cukup memahami maksud ibunya, namun jika dilakukan berkali-kali, minimal mereka akan merekamnya terlebih dahulu, sehingga mudah diberi pengertian nantinya. Untuk anak balita, menerangkan tafsir ayat dengan bantuan gambar-gambar menarik akan lebih mudah masuk ke dalam memorinya.
Ketika Mendapat Rezeki
Ketika anak memperoleh rezeki, senantiasa ingatkan bahwa semuanya itu dari Allah semata. Pengertian rezeki bukan terbatas pada bentuk uang saja.
Makanan, minuman, pakaian, mainan, baik yang membeli, maupun diberi orang, kesehatan, keselamatan perjalanan semua dapat dikatakan rezeki. Sembari memberikan uang jajan bekal sekolah, mengingatkan, "Lima ratus perak harta Allah dititipkan padamu pagi ini, pergunakan baik-baik di sekolah, ya." Atau berpesan saat mengenakan baju usai mandi sore, "Pakaian bagus ini Cuma titipan, bukan milik kita. Kalau kita mati, ditinggal semua di sini. Kita mati nggak bawa apa-apa." Proses awal ini tidak akan bisa cepat diterima anak, karena bertentangan dengan fitrah egosentrisme mereka, yang menganggap segala sesuatu adalah miliknya. Itu sebabnya orang tua tak boleh bersikap memaksa. Konsep 'semua harta milik Allah' hanya bisa diperkenalkan terlebih dahulu, dan bisa makan waktu berbulan-bulan. Namun, semakin sering diupayakan pengenalannya, akan semakin cepat mengikis sifat egosentris anak. Ketika Kehilangan Barang Betapa sedih hati sikecil, ketika balon di tangannya meletus. Meledaklah tangisnya menyesalkan kesialannya. Padahal balon milik teman-temannya masih bagus-bagus. Biarkan anak menangis supaya hatinya sedikit lega. Setelah tenang, masukkan pengertian bahwa balon itupun hanya harta titipan semata, bukan milik kita. Begitu pula dengan balon lain yang ada di tangan teman-teman. Semua cuma titipan.
Jika Enggan Meminjamkan
Kebahagiaan dan kebanggaan seorang anak ketika memperoleh barang baru, seringkali membuat mereka enggan meminjamkannya kepada teman lain. Sebenarnya hal ini masih wajar, karena toh barang itu milik mereka. Namun, untuk melatih empati anak serta meningkatkan kemampuan bersosialisasinya, akan lebih baik jika kita beri motivasi mereka untuk mau berbagi dengan orang lain. Ibu bisa katakan, "Sayang, mainan itu toh milik Allah juga. Hanya dititipkan sementara padamu. Kalau dipakai bersama-sama akan lebih baik.Pahalanya kamu yang dapat."
Kepekaan Sosial
Jangan dilewatkan kesempatan ketika mobil berhenti di perempatan jalan, dimana banyak anak menjajakan kue, kertas tisu maupun koran. Bangkitkan empati anak dengan menceritakan gambaran kehidupan anak-anak jalanan yang sengsara itu. Atau manakala melewati rumah-rumah gubuk dan kumuh, ajaklah anak membayangkan seandainya mereka yang harus tinggal di sana. Juga ketika melihat tukang sampah yang menarik gerobak sampah hingga berpeluh di bawah terik matahari. Dan seribu satu sisi-sisi kemiskinan lain yang banyak dapat kita jumpai di mayarakat. Ajaklah anak mensyukuri nikmat Allah yang memberikan titipan harta cukup banyak kepada kita. Dan bahwa titipan sebanyak itu pun semata karena rahmat Allah, bukannya karena kepandaian kita saja. Akhirnya, tumbuhkan kesadaran anak bahwa satu ketika kelak bukan tak mungkin kehidupan kita berubah menjadi miskin seperti itu. Maka dari itu, ketika berkecukupan janganlah foya-foya. Hidup sederhana saja, supaya jika nantinya harus jatuh miskin mereka tidak terlalu kaget.
Menabung dan Berinfaq
Memberikan teladan untuk menabung dan berinfaq secara rutin akan sangat efektif untuk mendidik anak agar tidak mata duitan. Akan lebih baik jika
ibu memotong langsung uang infaq dari uang saku mereka. Dengan begitu anak merasa telah menyisihkan uang dari hartanya sendiri. Sedekah yang diambilkan dari dompet ibu masih kalah efektif walau yang memberikannya kepada pengemis adalah anak-anak.
Berlatih Miskin
Sesekali, rekayasa satu kondisi tanpa harta. Beri pengertian kepada anak bahwa harus ada penghematan, karena anggaran menipis. Maka, potong uang saku mereka. Sederhanakan lauk di meja makan. Tahan keinginan mereka untuk membeli sepatu, tas atau barang baru lainnya. Ingatkan kembali tentang teman-teman yang bernasib lebih malang dari mereka. Momen puasa Ramadhan, sangat pas untuk keperluan ini. Di kala anak mengeluh karena perut melilit menahan lapar, itulah saat terbaik untuk menumbuhkan empati mereka kepada orang-orang miskin. Jika empati ini telah tumbuh, lebih mudah bagi kita untuk mengajak mereka hidup zuhud, dengan mengurangi pengeluaran dan memperbanyak tabungan serta infaq.•
Ramadhan dan Pendidikan Afektif
Rabu, 21 April 2010
KHUTBAH JUMAT : DAKWAH ISLAM MENUJU RIDHO ALLOH
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,Melalui Mimbar yang mulia ini saya menghimbau kepada diri saya pribadi juga kepada Maasyirol Muslimin untuk tidak henti-hentinya berusaha terus meningkatkan Taqwa Kita kepada Alloh SWT dengan cara melaksanakan apa yang diperintahkannya serta menjauhi apa yang dilarangNya.
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,
Pada kesempatan ini saya mendapat Amanah dari Ta’mir untuk menyampaikan Tema Khutbah “DAKWAH ISLAM MENUJU RIDHO ALLOH”. Kurang lebih ada 2 kata Kunci dari tema tersebut yaitu Dakwah Islam dan Ridho Alloh.
Dakwah yang secara lughah (da’a – yad’u , da’watan) berarti, mengajak atau menyeru, Dalam Kitab Rosmul Bayan at-tarbiyah, Makna dakwah tertulis sbb :
Artinya : Mengajak manusia kepada Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, sehingga mereka meninggalkan thaghut dan beriman kepada Allah agar mereka keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Adapun arti Ridho secara lughah (Rodhiya, yardho, Rodin) berarti rela atau berkenan. Ridho Alloh = Alloh rela/berkenan terhadap apa yang kita lakukan.
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,
Dalam sebuah risalahnya, Imam As-Syahid Hasan Al-banna pernah menyebutkan cirri-ciri Dakwah Sebagai berikut :
1. Dakwah Islamiah yang Konprehenship (Syumuliah Fi Da'wah)
Maksud Imam Hasan adalah bahwa dakwah Islamiah seharusnya membawa risalah Islam yang asli. Dakwah tersebut bukanlah didalam maksud yang sempit atau terbatas, misalnya terbatas pada sudut kecendekiawanan (keintelektualan) saja, atau pada sudut politik semata, dsb. Seterusnya manusia juga perlu memperoleh penjelasan tentang jalan dakwah Islamiah agar mereka faham tujuan dakwah yang sebenarnya sehingga masyarakat umum tidak merasa samar-samar akan cara-cara dakwah Islamiah.
2. Dakwah yang bersifat Rabbani (Robbaniah Fi Da'wah)
Yaitu berdakwah dengan menyeru manusia kepada Allah.
"Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di'azab. Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS 26:213-215)
"Wasilah-wasilah (jalan-jalan) dakwah hari ini dan kemarin mungkin berbeda; dakwah pada masa lalu lebih dalam bentuk ceramah-ceramah atau khutbah-khutbah ataupun ditulis dalam risalah-risalah atau surat-surat. Namun wasilah pada hari ini adalah melalui majalah-majalah, surat kabar, risalah-risalah internet, dan peralatan radio... kesemuanya ini adalah merupakan jalan untuk sampai kepada hati manusia"
Maksudnya, dakwah pada hakikatnya adalah untuk menghubungi hati-hati manusia; seruan-seruan, program-program dsbnya hanyalah berfungsi sebagai media untuk mencapai hakikat tersebut. Jadi, dakwah Islamiyah adalah "dakwah yang mana kita ingin mengetuk pintu-pintu hati manusia" agar terbuka dan menerima hakikat keimanan kepada Allah SWT. "Oleh karena itu, tugas Dai sebagai ahli dakwah adalah untuk memperbaiki jalan-jalan (untuk sampai pada hati manusia)... sehingga tercapailah apa yang dimaksud".
Ringkasnya, tugas seorang du'at adalah memanggil manusia kepada Allah, dengan berbicara kepada hati mereka melalui pembentukan kesadaran yang murni terhadap tanggung jawab mereka kepada Allah. Para da'i tidak akan dapat berfungsi sebagai pendakwah yang dapat membawa hidayah seandainya hati para da'i tersebut masih kotor. Karena itulah, Imam Hasan mengungkapkan agar para da'i menjadi : "Rahib di malam hari, pejuang di siang hari (Ruhban fil lail, wa fursan fin nahar)"
3. Dakwah yang membawa makna Islah
Maksud dakwah yang membawa makna Islah adalah bahwa kita harus berusaha memperbaiki keadaan yang meliputi Ummah. Termasuk di sini adalah berbagai usaha yang mencakup setiap aspek, yaitu mengISLAHkan INSAN, MASYARAKAT, dan NEGARA.
Kita haruslah berupaya sedapat mungkin melaksanakan ataupun membantu setiap aspek yang membawa Islah.
Imam Hasan menyimpulkan maksud ini dalam seruannya: "perbaikilah Peraturan-peraturan, perbaikilah suasana lahiriah masyarakat, perangilah amalan-amalan yang berlebihan (ibahiah) di dalam masyarakat, susunlah sistem pendidikan... "
Demikian juga di dalam sejarah hidupnya, beliau banyak menulis surat baik kepada para ulama maupun para pemimpin masyarakat agar mereka mengusahakan perbaikan masyarakat dan negara.
Dakwah seharusnya bukan datang untuk menentang segala yang ada di dalam masyarakat, melainkan untuk MEMPERBAIKINYA. Kita bukanlah bertugas sebagai hakim yang menilai, menghakimi, dan menghukum masyarakat; melainkan sebagai TABIB yang mengobati masyarakat. Kita haruslah bersikap seperti pohon, manusia melempari kita dengan batu namun kita membalasnya dengan buah kebaikan.
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,
Sekarang ini adalah era online, era dimana dunia tak lagi berjarak. Kita bisa ke mana saja, melintasi negeri atau menjelajahi benua tanpa harus beranjak dari tempat duduk. Yang diperlukan cuma seperangkat komputer dan fasilitas internet. Bagi yang tidak punya, bisa nongkrong di Warung Internet. Itupun ongkosnya murah meriah.
Bagaimanakah para ulama menyikapi gegap gempitanya era online seperti saat ini? ternyata mereka tak menutup mata. Para penerus salaf itu malah pro aktif memanfaatkan situasi ini demi memperluas kepakan dakwah mereka.
Coba telusuri http://www.alhabibomar.com/ . Lewat situs ini kita bisa mengenal lebih dekat Habib Umar bin Hafiz, ulama asal Tarim yang telah tersohor di dunia. Perjalanan dakwahnya yang merambah negeri-negeri muslim di seantero kolong jagad dicatat di situs ini, plus gambar-gambar eksklusifnya. Dari situs ini pula, kita bisa menggali pengetahuan dari Habib Umar. Pasalnya, ceramah ilmiah beliau dalam beragam disiplin ilmu (fikih,tafsir, sirah, tasawuf dan kewanitaan) bisa diunduh di sini. Ceramah-ceramah itu bisa diambil dalam format MP3 maupun video. Insya Allah, hal semacam ini bukanlah bid’ah dhalalah dan Insyaalloh Alloh Ridho terhadap apa yang kita lalkukan
Situs yang selalu ter-update ini menawarkan kesegaran ruhaniyah, cocok bagi kaum muslimin yang selalu haus akan ilmu. Untuk yang ingin memecah segala problema kesehariannya, situs ini menyediakan ruang fatwa dan curhat. Jawabannya dijamin memuaskan dan penuh tanggung-jawab. Habib Umar, sebagai seorang salaf, memang telah melangkah jauh ke depan. Beliau sangat arif, bisa membaca pergerakan zaman. Dan karena itu, pecinta-pecinta salaf yang tersebar di sudut-sudut bumi bisa menimba banyak manfaat dari beliau.
Langkah ini diteladani oleh salah satu murid terbaik beliau, Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri. Ulama karismatik yang lagi digandrungi kaum muda ini juga membuat situs pribadi, yakni www.alhabibali.com. Di situsnya, Habib Ali memberikan pengajian membahas beberapa bidang pengetahuan yang berkaitan erat dengan khalayak: fikih, hadis, tasawuf, dan fatwa-fatwa hukum bagi wanita. Semuanya bisa disimak dalam bentuk audio. Jadi kalau pengin menjadi santri beliau, tak usah jauh-jauh ke Timur Tengah, cukup klik alamat situs ini.
Ulama kelahiran Saudi Arabia ini ternyata sudah go internasional. Itu bisa kita ketahui dari jejak perjalanan dakwah beliau di situsnya. Habib Ali pernah singgah di Jerman, Belgia, Perancis, Kuwait, Libanon, India, Srilanka dan lainnya. Semua itu dalam rangka dakwah, bukan plesir liburan semata. Di setiap Negara yang dikunjungi, beliau bertemu muka dengan tokoh-tokoh pergerakan Islam. Gambar momen-momen penting itu terdokumentasikan dan bisa dilihat di situs pribadi beliau.
Tak kalah dari keduanya, seorang ilmuwan kawakan dari negeri Syria melakukan hal serupa, membikin website. Beliau adalah Doktor Said Ramdhan al-Bouthy, alumnus al-Azhar yang kini menjadi rektor di Universitas Damaskus. Alamat situsnya adalah: www.bouti.com. Nuansa ilmu sangat pekat di situs ini. Terdapat ceramah-ceramah beliau di pelbagai forum yang bisa didengar pengunjung secara online. Yang terpenting barangkali fatwa-fatwanya yang senantiasa menjadi rujukan ulama di Timur Tengah sana. Kapasitas ulama yang getol menyitir wahabi ini memang tak perlu disangsikan. Beliau memegang bertumpuk jabatan strategis. Selain menjadi rektor Universitas terkemuka di Syria, beliau juga anggota dewan kehormatan di negeri Oman, serta menjadi anggota rektorat di Universitas Oxford, Inggris.
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,
Selain situs-situs bersifat pribadi diatas, ada lagi beberapa situs yang perlu dikunjungi. Misalnya http://www.rubat-tareem.net (situs resmi Rubat Tarim, pesantren klasik yang telah mencetak ribuan ulama besar) www.daralmostafa.com/ (situs resmi pesantren asuhan Habib Umar bin Hafiz), atau www.ahgaff.edu. (Situs resmi Universitas al-Ahqaff, Hadramaut).
Para peretas jalan salaf di dalam negeri tak mau ketinggalan. Mereka turut larut dalam era yang serba online ini. Telusuri saja www.majelisrasulullah.org yang diasuh Habib Munzir al-Musawa. Situs ini lumayan atraktif. Memuat rekaman dakwah sang habib yang bermukim di ibukota itu. Juga menyediakan forum tanya -jawab permasalahan tauhid, fikih dan umum. Demi mengendorkan ketegangan, situs ini menyediakan forum iseng yang berisikan artikel humor yang bernilai islami.
Kalau yang satu ini merupakan situs olahan Pesantren Sunniyah Salafiyah: www.forsansalaf.com. Desainnya simpel namun artistik. Website ini sarat dengan artikel-artikel menarik yang bisa mengobati kehausan kita akan pengetahuan. Kita bisa meng-klik Kalam Salaf, bila ingin mendapatkan penyejukan dari nasehat-nasehat ulama klasik yang telah mencapai puncak kearifan.
Kalau kita mempunyai persoalan yang berkaitan dengan hukum syariat, tumpahkan saja ke dalam Majelis Ifta di situs ini. Insya Allah persoalan itu bakal dipecahkan oleh tim LBM (Lajnah Buhuts Wal Muraja’ah) yang dibentuk oleh pesantren binaan Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. Jawaban akan disertai teks-teks rujukan dari berbagai kitab yang bisa dipertanggung-jawabkan.
Yang menarik, website ini menyediakan forum konsultasi umum yang dipandu langsung oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir as-Segaf. bagi Maasyiral Muslimin yang mempunyai berbagai problem cukup pelik menyangkut kehidupan beragama, silakan sharing kepada beliau lewat website ini. Solusi yang diberikan pasti sesuai manhaj salaf yang istiqamah.
Ma’asyiral Muslimina Rahimakumulloh,
Tak bisa disangkal, dunia memang terus berputar. Perputaran itu mesti kita ikuti sepanjang ia tidak bergesekan dengan norma syariat. Seorang Sufi bukanlah orang yang terus berdiam diri di goa-goa nan gelap- gulita. Sufi sejati adalah muslim yang memelihara diri serta hati dari perbuatan cela. Dengan memanfaatkan internet, kita bisa tetap menjadi seorang sufi. Dan sekali lagi, ini bukanlah perbuatan bid’ah.dan Insyaalloh Alloh Ridho terhadap apa yang kita lalkukan
Akhirnya, marilah kita gapai Ridho Alloh dengan cara ikut berperan aktif dalam kegiatan Dakwah Islam sekecil apaun peran kita agar Alloh Ridho kepada kita.

